Dampak Pencemaran Udara Terhadap Lingkungan dan Manusia

I. PENDAHULUAN
Udara sebagai komponen lingkungan yang penting dalam kehidupan perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya sehingga dapat memberikan daya dukungan bagi mahluk hidup untuk hidup secara optimal. Pertumbuhan pembangunan seperti industri, transportasi, dan lain-lain disamping memberikan dampak positif namun disisi lain akan memberikan dampak negatif dimana salah satunya berupa pencemaran udara dan kebisingan. Pencemaran udara terjadi jika komposisi zat –zat yg ada di udara melampaui ambang batas yang ditentukan. Adanya bahan- bahan kimia yang melampaui batas dapat membahayakan kesehatan manusia, mengganggu kehidupan hewan dan tumbuhan dan terganggunya iklim (cuaca).
Pencemaran udara adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam udara dan atau berubahnya tatanan (komposisi) udara oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam, sehingga kualitas udara menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai peruntukannya. Sumber pencemaran udara yang paling dominan disebabkan karena adanya aktifitas manusia (antropogenik) dalam mengeksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran terutama pemanfaatan bahan bakar fosil, pembangunan industri-industri (pabrik), serta pemanfaatan lahan hutan tanpa mempertimbangkan keseimbangan lingkungan. Adanya sumber-sumber pencemaran udara tersebut maka, dapat menimbulkan efek yang merugikan baik yang berdampak pada manusia maupun berdampak pada hewan dan tumbuhan serta lingkungan sekitarnya. Dampak tersebut dapat dirasakan baik secara langsung maupun tidak langsung dan dalam jangka waktu yang pendek dan panjang. Oleh karena itu, mulai dari sekarang perlu dilakukan upaya untuk pencegahan dan pengurangan dampak dari aktifitas-aktifitas manusia tersebut agar tidak terjadi peningkatkan pencemaran udara serta menjaga keseimbangan lingkungan.

II. ISI
Udara adalah suatu campuran gas yang terdapat pada lapisan yang mengelilingi bumi. Udara dalam istilah meteorologi disebut atmosfir yang merupakan campuran gas-gas yang tidak bereaksi satu dengan lainnya (innert). Komposisi udara yang normal merupakan campuran gas-gas meliputi 78% N2; 20% O2; 0,93% Ar; 0,03% CO2 dan sisanya terdiri dari neon (Ne), Helium (He), metan (CH4) dan hidrogen (H2) dengan konsentrasi yang kecil. Jika terjadi penambahan gas-gas lain yang menimbulkan gangguan serta perubahan komposisi tersebut, maka dapat dikatakan udara sudah tercemar. Udara yang dicemari oleh zat-zat atau bahan-bahan pencemar yang dapat merubah komposisi udara tersebut akan merugikan kesehatan manusia, kelestarian tanaman dan hewan, serta dapat mengganggu estetika lingkungan. Dampak negatif yang timbul akibat jenis-jenis polutan pencemar udara sebagai berikut:


A. Karbonmonoksida (CO)
Karbonmonoksida dapat berasal dari alam dan akibat aktifitas manusia. Karbonmonoksida yang berasal dari alam termasuk dari lautan, oksidasi metal di atmosfir, pegunungan, kebakaran hutan dan badai listrik alam (Anonim, 2004). Menurut Pohan (2002), secara umum terbentuk gas CO adalah melalui proses berikut ini :
Pembakaran bahan bakar fosil yang tidak sempurna.
Pada suhu tinggi terjadi reaksi antara karbondioksida (CO2) dengan karbon C yang menghasilkan gas CO.
Pada suhu tinggi, CO2 dapat terurai kembali menjadi CO dan oksigen.
Menurut Anonim (2004), sumber CO buatan antara lain kendaraan bermotor, terutama yang menggunakan bahan bakar bensin. Selain itu asap rokok juga mengandung CO. Adapun sumber  CO dari dalam ruang (indoor) termasuk dari tungku dapur rumah tangga dan tungku pemanas ruang. Kandungan CO yang melebihi batas akan memberikan efek negatif bagi kesehatan manusia, makhluk hidup lainnya dan lingkungan sekitarnya.
Efek Terhadap Kesehatan Manusia
Karakteristik biologik yang paling penting dari CO adalah kemampuannya untuk berikatan dengan haemoglobin, pigmen sel darah merah yang mengakut oksigen ke seluruh tubuh. Sifat ini menghasilkan pembentukan karboksihaemoglobin (HbCO) yang 200 kali lebih stabil dibandingkan oksihaemoglobin (HbO2). Penguraian HbCO yang relatif lambat menyebabkan terhambatnya kerja molekul sel pigmen tersebut dalam fungsinya membawa oksigen keseluruh tubuh. Kondisi seperti ini bisa berakibat serius, bahkan fatal, karena dapat menyebabkan keracunan. Selain itu, metabolisme otot dan fungsi enzim intra-seluler juga dapat terganggu dengan adanya ikatan CO yang stabil tersebut. Dampak keracunan CO sangat berbahaya bagi orang yang telah menderita gangguan pada otot jantung atau sirkulasi darah periferal yang parah (Anonim, 2004).
Menurut Pohan (2002), juga menyatakan bahwa karbonmonoksida (CO) apabila terhisap ke dalam paru-paru akan ikut peredaran darah dan akan menghalangi masuknya oksigen yang akan dibutuhkan oleh tubuh. Hal ini dapat terjadi karena gas CO bersifat racun metabolisme, ikut bereaksi secara metabolisme dengan darah. Seperti halnya oksigen, gas CO bereaksi dengan darah (hemoglobin) :
Hemoglobin + O2 O2Hb (oksihemoglobin)
Hemoglobin + CO COHb (karboksihemoglobin)
Konsentrasi gas CO sampai dengan 100 ppm masih dianggap aman kalau waktu kontak hanya sebentar. Gas CO sebanyak 30 ppm apabila dihisap manusia selama 8 jam akan menimbulkan rasa pusing dan mual. Pengaruh karbonmonoksida (CO) terhadap tubuh manusia ternyata tidak sama dengan manusia yang satu dengan yang lainnya. Konsentrasi gas CO disuatu ruang akan naik bila di ruangan itu ada orang yang merokok. Orang yang merokok akan mengeluarkan asap rokok yang mengandung gas CO dengan konsentrasi lebih dari 20.000 ppm yang kemudian menjadi encer sekitar 400-5000 ppm selama dihisap. Konsentrasi gas CO yang tinggi di dalam asap rokok menyebabkan kandungan COHb dalam darah orang yang merokok jadi meningkat. Keadaan tersebut tentu sangat membahayakan kesehatan orang yang merokok. Orang yang merokok dalam waktu yang cukup lama (perokok berat) konsentrasi COHb dalam darahnya sekitar 6,9%. Hal inilah yang menyebabkan perokok berat mudah terkena serangan jantung.

Kadar CO Waktu Kontak Dampak Bagi Tubuh
≤ 100 ppm Sebentar Dianggap Aman
± 30 ppm 8 jam Menimbulkan Pusing dan Mual
± 1000 ppm 1 jam Pusing dan Kulit Berubah Kemerahan
± 1300 ppm 1 jam Kulit Merah Tua dan Pusing Hebat
> 1300 ppm 1 jam Dapat Menimbulkan Kematian


Efek Terhadap Lingkungan Sekitar
Bagi tumbuhan, kadar CO sebesar 100 ppm pengaruhnya hampir tidak ada khususnya tumbuhan tingkat tinggi. Kadar CO sebesar 200 ppm dengan waktu kontak 24 jam dapat mempengaruhi kemampuan fiksasi nitrogen oleh bakteri bebas terutama yang terdapat pada akar tumbuhan (Anonim, 2008).

B. Sulfurdioksida (SOx)
Sulfuroksida (SOx) terdiri dari sulfurdioksida (SO2) dan sulfurtrioksida (SO3). Gas SO2 berbau tajam dan tidak mudah terbakar, sedangkan gas SO3 bersifat sangat reaktif. Gas SO3 mudah bereaksi dengan uap air yang ada di udara untuk membentuk asam sulfat atau H2SO4. Asam sulfat ini sangat reaktif, mudah bereaksi (memakan) benda-benda lain yang mengakibatkan kerusakan, seperti proses perkaratan (korosi) dan proses kimiawi lainnya (Pohan, 2002).
Dua pertiga jumlah sulfur yang terdapat di atmosfir merupakan hasil kegiatan manusia dan kebanyakan dalam bentuk SO2. Dua pertiga bagian lagi berasal dari sumber-sumber alam seperti vulkano dan terdapat dalam bentuk H2S dan oksida (Anonim, 2004). Pencemaran SOx di udara terutama berasal dari pemakaian baru bara yang digunakan pada kegiatan industri, transportasi, dan lain sebagainya. Selain tergantung dari pemecahan batu bara yang dipakai sebagai bahan bakar, penyebaran gas SOx, ke lingkungan juga tergantung dari keadaan meteorologi dan geografi setempat. Kelembaban udara juga mempengaruhi kecepatan perubahan SOx menjadi asam sulfat maupun asam sulfit yang akan berkumpul bersama awan yang akhirnya akan jatuh sebagai hujan asam (Pohan, 2002). Kandungan SOx yang melebihi batas akan memberikan efek negatif antara lain:
Efek Terhadap Kesehatan Manusia
Udara yang telah tercemar SOx menyebabkan manusia akan mengalami gangguan pada system pernapasaannya. Hal ini karena gas SOx yang mudah menjadi asam tersebut menyerang selaput lendir pada hidung, tenggorokan dan saluran napas yang lain sampai ke paru-paru. Serangan gas SOx tersebut menyebabkan iritasi pada bagian tubuh yang terkena (Pohan, 2002). SO2 berbahaya bagi anak-anak, orang tua, dan orang yang menderita kardiovaskuler. Otot saluran pernapasan akan mengalami kejang (spasma). Akan lebih berat lagi jika konsentrasi SO2 tinggi dan suhu udara rendah. Pada paparan lama akan terjadi peradangan yang hebat pada selaput lendir yang diikuti paralysis cilia (kelumpuhan sistem pernapasan), kerusakan lapisan ephitelium, akhirnya kematian. Pada konsentrasi 6 – 12 ppm dengan paparan pendek yang berulang-ulang dapat menyebabkan hiperplasia dan metaplasia sel-sel epitel yang akhirnya menjadi kangker (Anonim, 2008). Menurut Anonim (2004), Kadar SO2 yang berpengaruh terhadap gangguan kesehatan adalah sebagai berikut :

Konsentrasi (ppm) Pengaruh
3-5 Jumlah terkecil yang dapat dideteksi dari baunya
8-12 Jumlah terkecil yang segera mengakibatkan iritasi tenggorokan
20 Jumlah terkecil yang akan mengakibatkan iritasi mata
20 Jumlah terkecil yang akan mengakibatkan batuk
20 Maksimum Yang diperbolehkan untuk konsentrasi dalam waktu lama
50-100 Maksimum yang diperbolehkan untuk kontrak singkat (30 menit)
400-500 Berbahaya meskipun kontak secara singkat


Efek Terhadap Lingkungan Sekitar
Pengaruh pencemaran SO2 terhadap lingkungan telah banyak diketahui. Pada tumbuhan, daun adalah bagian yang paling peka terhadap pencemaran SO2, dimana akan terdapat bercak atau noda putih atau coklat merah pada permukaan daun. Dalam beberapa hal, kerusakan pada tumbuhan dan bangunan disebabkan karena SO2 dan SO3 di udara, yang masing-masing membentuk asam sulfit dan asam sulfat. Suspensi asam di udara ini dapat terbawa turun ke tanah bersama air hujan dan mengakibatkan air hujan bersifat asam. Reaksi terbentuknya hujan asam adalah:
SO2 + ½ O2 + H2O (2H + SO2)aq
Sifat asam dari air hujan ini dapat menyebabkan korosif pada logam-logam dan rangka-rangka bangunan, merusak bahan pakian dan tumbuhan (Tugaswati, 2004). Adanya hujan asam akan dapat menyebabkan danau atau kolam menjadi terlalu asam, akibat yang ditimbulkan adalah ikan-ikan yang terdapat di dalam kolam tersebut akan mengelami kematian dan tanaman di sekitarnya menjadi banyak yang mati. Pada benda-benda, SO2 bersifat korosif. Cat dan bangunan gedung warnanya menjadi kusam kehitaman karena PbO pada cat bereaksi dengan SOx menghasilkan PbS. Jembatan menjadi rapuh karena mempercepat pengkaratan (Anonim, 2008).


C. Hidrokarbon (HC)
Hidrokarbon dapat berasal dari proses industri yang diemisikan ke udara dan kemudian merupakan sumber fotokimia dari ozon. HC merupakan polutan primer karena dilepas ke udara ambien secara langsung, sedangkan oksidan fotokima merupakan polutan sekunder yang dihasilkan di atmosfir dari hasil reaksi-reaksi yang melibatkan polutan primer. Kegiatan industri yang berpotensi menimbulkan cemaran dalam bentuk HC adalah industri plastik, resin, pigmen, zat warna, pestisida dan pemrosesan karet. Diperkirakan emisi industri sebesar 10 % berupa HC. Sumber HC dapat pula berasal dari sarana transportasi. Kondisi mesin yang kurang baik akan menghasilkan HC. Pada umumnya pada pagi hari kadar HC di udara tinggi, namun pada siang hari menurun. Sore hari kadar HC akan meningkat dan kemudian menurun lagi pada malam hari. Adanya hidrokarbon di udara terutama metana, dapat berasal dari sumber-sumber alami terutama proses biologi aktivitas geothermal seperti explorasi dan pemanfaatan gas alam dan minyak bumi dan sebagainya. Jumlah yang cukup besar juga berasal dari proses dekomposisi bahan organik pada permukaan tanah, demikian juga pembuangan sampah, kebakaran hutan dan kegiatan manusia lainnya mempunyai peranan yang cukup besar dalam memproduksi gas hidrakarbon di atmosfir. Efek negatif yang disebabkan oleh pencemaran hidrokarbon antara lain:
Efek Terhadap Kesehatan Manusia
Beberapa dari bahan bahan pencemar ini merupakan senyawa-senyawa yang bersifat karsinogenik dan mutagenik, seperti etilen, formaldehid, benzena, metil nitrit dan hidrokarbon poliaromatik (PAH). Emisi kendaraan bermotor yang mengandung senyawa karsinogenik diperkirakan dapat menimbulkan tumor pada organ lain selain paru. Akan tetapi untuk membuktikan apakah pembentukan tumor tersebut hanya diakibatkan karena asap solar atau gas lain yang bersifat sebagai iritan (Tugaswati, 2004).
Menurut Anonim (2004), hidrokarbon di udara akan bereaksi dengan bahan-bahan lain dan akan membentuk ikatan baru yang disebut plycyclic aromatic hidrocarbon (PAH) yang banyak dijumpai di daerah industri dan padat lalulintas. Bila PAH ini masuk dalam paru-paru akan menimbulkan luka dan merangsang terbentuknya sel-sel kanker. Pengaruh hidrokarbon aromatic pada kesehatan manusia dapat terlihat pada tabel dibawah ini :

Konsentrasi Jenis Hidrokarbon (ppm) Dampak Kesehatan
Benzena (C6H6)

100

3000

7500

20000

Iritasi membran mukosa

Lemas setelah ½ – 1 jam

Pengaruh sangat berbahaya setelah pemaparan 1 jam

Kematian setelah pemaparan 5-10 menit

Toluena (C7H8)

200

600

Pusing lemah dan berkunang-kunang setelah pemaparan 8 jam

Kehilangan koordinasi bola mata terbalik setelah pemaparan 8 jam


Efek Terhadap Lingkungan Sekitar
Pembakaran hidrokarbon menghasilkan panas. Panas yang tinggi menimbulkan peristiwa pemecahan (Cracking) menghasilkan rantai hidrokarbon pendek atau partikel karbon. Gas hidrokarbon dapat bercampur dengan gas buangan lainnya. Cairan hidrokarbon membentuk kabut minyak (droplet). Padatan hidrokarbon akan membentuk asap pekat dan menggumpal menjadi debu/partikel. Hidrokarbon bereaksi dengan NO2 dan O2 mengahsilkan PAN (Peroxy Acetyl Nitrates). Campuran PAN dengan gas CO dan O3 disebut kabut foto kimia (Photo Chemistry Smog) yang dapat merusak tanaman. Daun menjadi pucat karena selnya mati. Jika hidrokarbon bercampur bahan lain toksitasnya akan meningkat (Anonim, 2008).

D. Nitrogen Oksida (NOx)
Menurut Pohan (2002), pencemaran gas NOx di udara terutama berasal dari gas buangan hasil pembakaran yang keluar dari generator pembangkit listri stasioner atau mesin-mesin yang menggunakan bahan bakar gas alami. Menurut Anonim (2004), dari seluruh jumlah oksigen nitrogen (NOx) yang dibebaskan ke udara, jumlah yang terbanyak adalah dalam bentuk NO yang diproduksi oleh aktivitas bakteri. Akan tetapi pencemaran NO dari sumber alami ini tidak merupakan masalah karena tersebar secara merata sehingga jumlahnya menjadi kecil. Yang menjadi masalah adalah pencemaran NO yang diproduksi oleh kegiatan manusia karena jumlahnya akan meningkat pada tempat-tempat tertentu. Kadar NOx diudara perkotaan biasanya 10–100 kali lebih tinggi dari pada di udara pedesaan. Kadar NOx di udara daerah perkotaan dapat mencapai 0,5 ppm (500 ppb). Seperti halnya CO, emisi NOx dipengaruhi oleh kepadatan penduduk karena sumber utama NOx yang diproduksi manusia adalah dari pembakaran dan kebanyakan pembakaran disebabkan oleh kendaraan bermotor, produksi energi dan pembuangan sampah. Sebagian besar emisi NOx buatan manusia berasal dari pembakaran arang, minyak, gas, dan bensin. Adapun efek negatif yang ditimbulkan pencemaran NOx adalah sebagai berikut:
Efek Terhadap Kesehatan Manusia
Udara yang mengandung gas NO dalam batas normal relatif aman dan tidak berbahaya, kecuali jika gas NO berada dalam konsentrasi tinggi. Konsentrasi gas NO yang tinggi dapat menyebabkan gangguan pada system saraf yang mengakibatkan kejang-kejang. Bila keracunan ini terus berlanjut akan dapat menyebabkan kelumpuhan. Gas NO akan menjadi lebih berbahaya apabila gas itu teroksidasi oleh oksigen sehinggga menjadi gas NO2 (Pohan, 2002). Percobaan pada manusia menyatakan bahwa kadar NO2 sebsar 250 μg/m3 dan 500 μg/m3 dapat mengganggu fungsi saluran pernafasan pada penderita asma dan orang sehat.

Efek Terhadap Lingkungan Sekitar
Pencemaran oksida nitrogen bagi tumbuhan menyebabkan bintik-bintik pada permukaan daun, bila konsentrasinya tinggi mengakibatkan nekrosis (kerusakan jaringan daun), sehingga fotosintesis terganggu. Dalam keadaan seperti ini daun tidak dapat berfungsi sempurna sebagai temapat terbentuknya karbohidrat melalui proses fotosintesis. Akibatnya tanaman tidak dapat berproduksi seperti yang diharapkan. Konsentrasi NO sebanyak 10 ppm sudah dapat menurunkan kemampuan fotosintesis daun sampai sekitar 60% hingga 70% (Pohan, 2002).
Di udara oksida nitrogen dapat menimbulkan PAN (Peroxy Acetyl Nitrates) yang dapat menyebabkan iritasi mata (pedih dan berair). PAN bersama senyawa yang lain akan menimbulkan kabut foto kimia (Photo Chemistry Smog) yang dapat mengganggu lingkungan dan dapat merusak tanaman. Daun menjadi pucat karena selnya mati. Jika hidrokarbon bercampur bahan lain toksitasnya akan meningkat (Anonim, 2008). Berdasarkan studi menggunakan binatang percobaan, pengaruh yang membahayakan seperti misalnya meningkatnya kepekaan terhadap radang saluran pernafasan, dapat terjadi setelah mendapat pajanan sebesar 100 μg/m3 (Tugaswati, 2004).

E. Ozon (O3)
Menurut Moefthi dan Sri (2005) juga menyebutkan bahwa penipisan ozon disebabkan penggunaan unsur-unsur yang memiliki stabilitas yang sangat tinggi berupa zat-zat kimia, unsur-unsur bahan pendingin seperti: ODS (ozone-depleting substances), chlorofluorocarbons (CFCs), hydrochlorofluorocarbons (HCFCs), halons, methyl bromide, carbon tetrachloride, dan methyl chloroform. Zat Kloroflorokarbon atau Chlorofluorocarbon (CFC) mengandung klorin (chlorine),  florin (fluorine) dan karbon (carbon). Semua zat tersebut dihasilkan dari alat-alat rumah tangga yang digunakan sehari-hari misalnya lemari pendingin, pestisida, kosmetik (hair spray) dan lain sebagainya. Efek negatif yang ditimbulkan adalah :
Efek Terhadap Kesehatan Manusia
Ozon merupakan senyawa oksidan yang paling kuat dibandingkan NO2 dan bereaksi kuat dengan jaringan tubuh. Evaluasi tentang dampak ozon dan oksidan lainnya terhadap kesehatan yang dilakukan oleh WHO task group menyatakan pemajanan oksidan fotokimia pada kadar 200-500 μg/m³ dalam waktu singkat dapat merusak fungsi paru-paru anak, meningkat frekuensi serangan asma dan iritasi mata, serta menurunkan kinerja para olaragawan (Tugaswati, 2004).
Beberapa gejala yang dapat diamati pada manusia yang diberi perlakuan kontak dengan ozon, sampai dengan kadar 0,2 ppm tidak ditemukan pengaruh apapun, pada kadar 0,3 ppm mulai terjadi iritasi pada hidung dan tenggorokan. Kontak dengan Ozon pada kadar 1,0–3,0 ppm selama 2 jam pada orang-orang yang sensitif dapat mengakibatkan pusing berat dan kehilangan koordinasi. Pada kebanyakan orang, kontak dengan ozon dengan kadar 9,0 ppm selama beberapa waktu akan mengakibatkan edema pulmonari (Anonim. 2004).

Efek Terhadap Lingkungan Sekitar
Adanya bahan-bahan seperti CFC dan lain sebagainya maka dapat mengakibatkan penipisian ozon yang merupakan pelindung bumi. Efek yang terjadi adalah pemanasan global yang dapat mengakibatkan perubahan iklim, perubahan habitat hidupan liar, kegagalan panen pertanian, kenaikan muka air laut, mencairnya daerah kutub (WWF-Indonesia, 2007).

F. Partikulat
Sumber pencemaran partikel dapat berasal dari peristiwa alami dan juga dapat berasal dari ulah manusia dalam rangka mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik. Pencemaran partikel yang bersaal dari alam contohnya adalah :
Debu tanah/pasir halus yang terbang terbawa oleh angin kencang.
Abu dan bahan-bahan vulkanik yang terlempar ke udara akibat letusan gunung.
Semburan uap air panas di sekitar daerah sumber panas bumi di daerah pegunungan.
Sumber pencemaran partikel akibat ulah manusia sebagian besar berasal dari pembakaran batu bara, proses industri, kebakaran hutan dan gas buangan alat transportasi. Adapun efek negatif yang ditimbulkan adalah sebagai berikut :
Efek Terhadap Kesehatan Manusia
Menurut Anonim (2008), partikel (debu) yang masuk/mengendap dalam paru-paru dapat menimbulkan berbagai macam penyakit saluran pernapasan (pnevmokoniosis) antara lain:
Penyakit silikosis
Disebabkan oleh pencemaran debu silika bebas (SiO2). Dapat terjadi pada daerah pabrik besi dan baja, keramik, pengecoran beton, bengkel yang mengerjakan besi (mengikir/menggerinda), penambangan bijih besi, timah putih dan batubara. Bila sudah parah penyakit ini dapat diikuti hipertropi jantung sebelah kanan yang mengakibatkan kegagalan kerja jantung.
Penyakit asbestosis
Disebabkan oleh debu/serat asbes (campuran berbagai silikat terutama magnesium silikat). Dapat terjadi di daerah pabrik/industri yang menggunakan asbes, pabrik pemintalan serat asbes, pabrik yang beratap asbes, dan lain-lain.
Penyakit Bisinosis
Disebabkan oleh debu/serat kapas. Dapat terjadi pada daerah pabrik pemintalan kapas/tekstil, pembuatan kasur atau jok kursi. Penyakit ini dapat diikuti bronkitis kronis.
Penyakit antrakosis
Disebabkan oleh debu batubara. Dapat terjadi pada daerah tambang batubara, penggunaan batubara pada tanur besi, lokomotif (stoker), kapal laut bertenaga batubara, pekerja boiler pada PLTU bertenaga batubara.
Partikulat debu yang melayang dan berterbangan dibawa angin akan menyebabkan iritasi pada mata dan dapat menghalangi daya tembus pandang mata (Visibility) Adanya ceceran logam beracun yang terdapat dalam partikulat debu di udara merupakan bahaya yang terbesar bagi kesehatan. Pada umumnya udara yang tercemar hanya mengandung logam berbahaya sekitar 0,01% sampai 3% dari seluruh partikulat debu di udara. Akan tetapi logam tersebut dapat bersifat akumulatif dan kemungkinan dapat terjadi reaksi sinergistik pada jaringan tubuh (Anonim, 2004).

Efek Terhadap Lingkungan Sekitar
Efek yang ditimbulkan terhadap lingkungan sepeti pemakaian insektisida dapat menyebabkan cocarcinogenik. Selain itu juga dapat menyebabkan efek rumah kaca yang dapat merusakkan lapisan ozon, sehingga sinar ultra violet tidak tersaring. Dapat menyebabkan kanker kulit, suhu bumi naik sehingga tidak nyaman, es kutub mencair sehingga permukaan laut naik (Anonim, 2008).
Pengaruh partikulat terhadap tanaman terutama adalah dalam bentuk debunya, dimana debu tersebut jika bergabung dengan uap air atau air hujan gerimis akan membentuk kerak yang tebal pada permukaan daun, dan tidak dapat tercuci dengan air hujan kecuali dengan menggosoknya. Lapisan kerak tersebut akan mengganggu proses fotosintesis pada tanaman karena menghambat masuknya sinar matahari dan mencegah pertukaran CO2 dengan atmosfer. Akibatnya petumbuhan tanaman menjadi terganggu. Bahaya lain yang ditimbulkan dari pengumpulan partikulat pada tanaman adalah kemungkinan bahwa partikulat tersebut mengandung komponen kimia yang berbahaya bagi hewan yang memakan tanaman tersebut. Partikulat-partikulat yang terdapat di udara dapat mengakibatkan berbagai kerusakan pada berbagai bahan. Jenis dan tingkat kerusakan yang dihasilkan oleh partikulat dipengaruhi oleh komposisi kimia dan sifat fisik partikulat tersebut. Kerusakan pasif terjadi jika partikulat menempel atau mengendap pada bahan-bahan yang terbuat dari tanah sehingga harus sering dibersihkan. Proses pembersihan sering mengakibatkan cacat pada permukaan benda-benda dari tanah tersebut. Kerusakan kimia terjadi jika partikulat yang menempel bersifat korosif atau partikulat tersebut membawa komponen lain yang bersifat korosif. (BPLHD, 2009).

G. Timah Hitam (Pb)
Pencemaran Pb disebabkan oleh pembakaran Pb-alkil sebagai zat aditif pada bahan bakar kendaraan bermotor. Penambangan dan peleburan batuan Pb di beberapa wilayah sering menimbulkan masalah pencemaran. Penggunaan pipa air yang mengandung Pb di rumah tangga terutama pada daerah yang kesadahan airnya rendah (lunak) dapat menjadi sumber pemajanan Pb pada manusia. Demikian juga di daerah dengan banyak rumah tua yang masih menggunakan cat yang mengandung Pb dapat menjadi sumber pemajanan Pb. Kadar Pb yang terlalu berlebihan akan menyebabkan dampak negatif antara lain:
Efek Terhadap Kesehatan Manusia
Menurut Santi (2001), Pb yang terhirup oleh manusia setiap hari akan diserap, disimpan dan kemudian ditabung da dalam darah. Bentuk Kimia Pb merupakan faktor penting yang mempengaruhi sifat-sifat Pb di dalam tubuh. Komponen Pb organik misalnya tetraethil Pb segara dapat terabsorbsi oleh tubuh melalui kulit dan membran mukosa. Pb organik diabsorbsi terutama melalui saluran pencernaan dan pernafasan dan merupakan sumber Pb utama di dalam tubuh. Di dalam tubuh Pb dapat menyebabkan keracunan akut maupun keracunan kronik. Jumlah Pb minimal di dalam darah yang dapat menyebabkan keracunan berkisar antara 60-100 mikro gram per 100 ml darah. Pada keracunan akut biasanya terjadi karena masuknya senyawa timbal yang larut dalam asam atau menghirup uap Pb tersebut. Gejala-gejala yang timbul berupa mual, muntah, sakit perut hebat, kelainan fungsi otak, anemi berat, kerusakan ginjal bahkan kematian dapat terjadi dalam 1-2 hari. Kelainan fungsi otak terjadi karena Pb ini secara kompetitif menggantikan mineral-mineral utama seperti seng, tembaga, dan besi dalam mengatur fungsi mental kita. Keracunan timbal kronik menimbulkan gejala seperti depresi, sakit kepala, sulit berkonsentrasi, gelisah, daya ingat me nurun, sulit tidur, halusinasi dan kelemahan otot. Susunan saraf pusat merupakan organ sasaran utama timbal.
Menurut penelitian dr M. Erikson menunjukkan bahwa wanita hamil yang memiliki kadar timbal tinggi dalam darahnya ternyata 90 % dari simpanan timbal pada tubuhnya dialirkan kepada si janin melalui plasenta, dimana keracunan pada janin mempengaruhi intelektual dan tingkah laku si anak di kemudian hari. Dari catatan Bank Dunia, URBAIR 1994, terlihat bahwa dampak pencemaran udara oleh timbal di Indonesia telah menimbulkan 350 kasus penyakit jantung, 62.000 kasus tekanan darah tinggi, serta angka kematian 340 orang per tahun.

Efek Terhadap Lingkungan Sekitar
Timbal atau timah hitam dapat merusak lingkungan. Lingkungan akan tampak terlihat berdebu, kotor akibat asap pembuangan kendaraan bermotor yang pada umumnya mengandung Pb (Santi, 2001).

H. Klorin
Klorin merupakan bahan kimia penting dalam industri yang digunakan untuk klorinasi pada proses produksi yang menghasilkan produk organik sintetik, seperti plastik (khususnya polivinil klorida), insektisida (DDT, Lindan, dan aldrin) dan herbisida (2,4 dikloropenoksi asetat) selain itu, juga digunakan sebagai pemutih (bleaching agent) dalam pemrosesan sellulosa, industri kertas, pabrik pencucian (tekstill) dan desinfektan untuk air minum dan kolam renang. Terbentuknya gas klorin di udara ambien merupakan efek samping dari proses pemutihan (bleaching) dan produksi zat/senyawa organik yang mengandung klor. Karena banyaknya penggunaan senyawa klor  di lapangan atau dalam industri dalam dosis berlebihan seringkali terjadi pelepasan gas klorin akibat penggunaan yang kurang efektif. Hal ini dapat menyebabkan terdapatnya gas pencemar klorin dalam kadar tinggi di udara ambien (Anonim, 2004). Efek negatif yang ditimbulkan adalah :
Efek Terhadap Kesehatan Manusia
Klorin dapat menimbulkan bau yang menyengat yang dapat menyebabkan iritasi pada mata saluran pernafasan. Apabila gas klorin masuk dalam jaringan paru-paru dan bereaksi dengan ion hidrogen akan dapat membentuk asam khlorida yang bersifat sangat korosif dan menyebabkan iritasi dan peradangan. Di udara ambien, gas klorin dapat mengalami proses oksidasi dan membebaskan oksigen seperti terlihat dalam reaksi dibawah ini :
CL2 + H2O à HCL + HOCL
8 HOCl à 6 HCl + 2HClO3 + O3
Dengan adanya sinar matahari atau sinar terang maka HOCl yang terbentuk akan terdekomposisi menjadi asam khlorida dan oksigen. Selain itu gas khlorin juga dapat mencemari atmosfer. Pada kadar antara 3,0 – 6,0 ppm gas khlorin terasa pedas dan memerahkan mata. Dan bila terpapar dengan kadar sebesar 14,0 – 21,0 ppm selama 30 –60 menit dapat menyebabkan penyakit paru-paru (pulmonari oedema) dan bisa menyebabkan emphysema dan radang paru-paru (Anonim, 2004).

Efek Terhadap Lingkungan Sekitar
Beberapa kerusakan yang disebabkan oleh polutan udara yaitu klorin (Cl2) yang berasal dari kilang minyak, menyebabkan daun terlihat keputihan, terjadinya nekrosis antar tulang daun, tepi daun nampak seperti hangus (Yunasfi, 2002).

I. Amonnia
Gas ammonia merupakan salah satu gas pencemar udara yang dihasilkan dari penguraian senyawa organik oleh mikroorganisme seperti dalam proses pembuatan kompos, dalam industri peternakan, dan pengolahan sampah kota. Ammonia juga dapat berasal dari sumber antrophogenik (akibat aktifitas manusia) seperti industri pupuk urea, industri asam nitrat dan dari kilang minyak (Dwipayani, 2001). Adapun Dampak negatif yang ditimbulkan dari pencemaran ammonia adalah sebagai berikut:
Efek Terhadap Kesehatan Manusia
Udara yang tercemar gas amonia dan sulfida dapat menyebabkan menyebabkan iritasi mata serta saluran pernafasan (Fauziah, 2009). Menurut Soeprapto dan Didik (2008), gas NH3 juga dapat menyebabkan Iritasi pada mata, saluran pernapasan dan kulit. Pada Kadar 2500-6500 ppm, gas ammonia melalui inhalasi menyebabkan iritasi hebat pada mata (Keraktitis), sesak nafas (Dyspnea), Bronchospasm, nyeri dada, sembab paru, batuk darah, Bronchitis dan Pneumonia. Pada kadar tinggi (30.000 ppm) dapat menyebabkan luka bakar pada kulit.

Efek Terhadap Lingkungan Sekitar
Sisa-sisa makanan dan sampah organik dibuang ke tempat sampah, kemudian di bawa ke tempat pembuangan akhir (TPA). Sampah-sampah tersebut kemudian membusuk dan menghasilkan gas amonia. Gas ammonia tersebut merupakan salah satu gas rumah kaca yang dapat menyebabkan global warming. Akibat yang terjadi adalah terjadinya perubahan iklim dan cuaca serta efek global warming lainnya (WWF-Indonesia, 2007). Gas ammonia juga dapat mengganggu estetika lingkungan karena bau pembusukan sampah yang sangat menyengat. Menurut Fauziah (2009), dampak negatif yang ditimbulkan usaha peternakan ayam terutama berasal dari kotoran ayam yang dapat menimbulkan gas yang berbau. Bau yang dikeluarkan berasal dari unsur nitrogen dan sulfida dalam kotoran ayam, yang selama proses dekomposisi akan terbentuk gas amonia, nitrit, dan gas hidrogen sulfida. Udara yang tercemar gas amonia dan sulfida dapat memyebabkan gangguan kesehatan ternak dan masyarakat di sekitar peternakan. Amonia dapat menghambat pertumbuhan ternak.

J. Radon Gas
Sumber radon berasal dari kegiatan medis, sinar kosmik, sinar gamma dan internal dan dari sumber-sumber lainnya seperti pelepasan dari instalasi nuklir (nuclear discharges), debu radioaktif hasil uji coba senjata nuklir (fallout). Keberadaan gas radon di lingkungan sangat dipengaruhi oleh kondisi, situasi dan jenis batuan yang terdapat pada daerah tersebut. Di dalam ruangan tempat tinggal/kantor, disamping dipengaruhi oleh kondisi dan bahan bangunan, juga dipengaruhi oleh sirkulasi udara dalam ruangan dengan udara luar atau lingkungan.
Sumber gas radon di dalam rumah dapat berasal dari model sirkulasi udara yang tertutup ini, yang ternyata memberikan konsentrasi radon yang relatif tinggi dibandingkan rumah model yang sama dengan sistem sirkulasi udara terbuka. Penggunaan bahan-bahan sisa hasil pengolahan bahan tambang sebagai bahan bangunan untuk perumahan maupun gedung dapat memperbesar konsentrasi gas radon dalam ruangan. Beberapa contoh diantaranya adalah phospogypsum (sisa hasil pengolahan fosfat yang mengandung radium), batu bata merah dari limbah pabrik penghasil aluminium, blart furnace slag (dari pabrik besi) dan sebagainya.
Pencemaran Radon Gas dapat menimbulkan efek negatif  terhadap kesehatan Manusia yaitu radon yang bersifat radioaktif, pada temperatur kamar selalu berbentuk gas dengan kerapatan 10 gr/liter dan terlarut dalam udara, juga meluruh menghasilkan turunan/anak luruh yang radioaktif. Secara berurutan turunan tersebut adalah polonium, 218Po (radium A) ; timbal, 214Pb (radium B) ; bismuth, 214Bi (radium C); polonium, 214Po (radium C’); timbal, 210Pb (radium D) [3,4]. Jika radon dan turunannya terhisap pada saat bernafas, maka anak luruhan radon yang berbentuk partikel sangat kecil tersebut akan mengendap di dalam paru-paru dan merupakan awal indikasi yang dapat menimbulkan kanker paru-paru. Semakin tinggi konsentrasi radon yang terhisap, makin besar pula kemungkinan seseorang menderita kanker paru-paru (Sofyan, 1998).
III. KESIMPULAN
Kualitas udara semakin memburuk karena tercemar oleh zat-zat pencemar yang sumbernya berasal dari pabrik-pabrik industri, dan kendaraan bermotor, proses pembakaran,pembuangan limbah padat. Zat-zat pencemar yang paling sering dijumpai adalah: SOx, NOx, CO, HC,  Pb, SPM, O3 dan lain sebagainya. Adanya polutan atau bahan-bahan tersebut dalam jumlah yang banyak dan di atas ambang baku yang diharuskan akan dapat memberikan efek negatif baik untuk manusia itu sendiri maupun untuk lingkungan sekitarnya misalnya tumbuhan dan hewan. Namun, dampak yang paling utama merugikan adalah terhadap kesehatan manusia terutama pada sistem pernapasan, pembuluh darah, persarafan, hati dan ginjal. Oleh karena itu, sangat perlu dilakukan suatu upaya pengurangan maupun pencegahan agar polutan-polutan yang berbahaya tersebut tidak membahayakan kesehatan manusia maupun lingkungan sekitarnya.
SUMBER BACAAN

Anonim. 2004. Parameter Pencemar Udara dan Dampaknya Terhadap Kesehatan. <www.depkes.go.id>. Diakses Tanggal 31 Oktober 2009.
Anonim. 2005. Upaya Menurunkan Risiko Paparan Gas Radon. <www.depkes.go.id>. Diakses Tanggal 31 Oktober 2009.
Anonim. 2008. Kimia Lingkungan. <romdhoni.staff.gunadarma.ac.id>. Diakses Tanggal 20 November 2009.
Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup. 2009. Pencemaran Udara Oleh Partikulat. Propinsi Jawa Barat.
Dwipayani, Ni Made Utami. 2001. Studi Penyisihan Gas Ammonia (NH3) Menggunakan Teknik Biofiltrasi di Bawah Kondisi Anaerob. Fakultas Teknik Lingkungan. Institut Teknologi Bandung. Jawa Barat. Tesis.
Fauziah. 2009. Upaya Pengelolaan Lingkungan Usaha Peternakan Ayam. <www.mustang89.com>. Diakses Tanggal 20 November 2009.
Moefthi, Irman Adipurwanto dan Sri Winartin. 2005. Penipisan Lapisan Ozon. Serasi (Selaras Harmoni) Edisi September 2005. Kementrian Lingkungan Hidup. p:5-7.
Pohan, Nurhasmawaty. 2002. Pencemaran Udara dan Hujan Asam. Program Studi Teknik Kimia. Fakultas Teknik. Universitas Sumatera Utara.
Santi, Devi Nuraini. 2001. Pencemaran Udara Oleh Timbal (Pb) Serta Penanggulangannya. Fakultas Kedokteran. Universitas Sumatera Utara. Sumatera Utara.
Soeprapto dan Didik S. 2008. Kesehatan Lingkungan dan Kesehatan Kerja (KLKK). <http://www.fk.uwks.ac.id>. Diakses Tanggal 20 November 2009.
Sofyan, Hasnel. 1998. Mewaspadai Gas Radon. Buletin Alara 1 (3), Pusat Standarisasi dan Penelitian Keselamatan Radiasi Badan Tenaga Atom Nasional. p:17-24.
Tugaswati, A. Tri. 2004. Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor dan Dampaknya Terhadap Kesehatan.
WWF-Indonesia. 2007. Pemanasan Global, Perubahan Iklim: Komik. <www.wwf.co.id>. Diakses Tanggal 20 November 2009.
Yunasfi. 2002. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Penyakit dan Penyakit yang Disebabkan Oleh Jamur. Fakultas Pertanian. Jurusan Ilmu Kehutanan. Universitas Sumatera Utara. Sumatera Utara.

About these ads

~ by Elsari Putri on February 6, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: